Monday, July 29, 2019


29 Juli 2019. Lama tidak menulis di blog, lama pula tidak hunting dan mengeksplor berbagai jenis film serta kameranya. Sesuai dengan judul di atas, dari awal tahun 2019 saya bersama keluarga dan tim sibuk dan memfokuskan pikiran dalam rangka membangun dan mengembangkan sebuah kedai kopi sederhana kami di wilayah Dago, Bandung. Kopi Juanda, nama yang kami pilih karena menurut kami nama Juanda ini mudah diingat, bernuansa lokal serta kebetulan kedai kami ini berlokasi di Jl. Ir. H. Djuanda No. 340 Bandung atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan Dago. Juanda sendiri bagi kami memiliki makna lain, seperti layakna akronim yang disematkan pada sebuah singkatan maka Juanda ini merupakan akronim atau kependekkan dari "Tujuan Anda" doa dan harapan yang kami sematkan pada sebuah nama.


6 bulan sudah kedai kopi sederhana kami ini beroperasi. 27 Januari 2019 merupakan awal dimana cerita perjalanan kami di dunia usaha serta awal perjalanan kami di industri kopi bermula. Langkah demi langkah, tantangan demi tantangan, pujian serta kritik datang silih berganti. Alhamdulillah semua itu adalah ilmu serta pelajaran yang sangat berharga bagi kami, untuk mengembangkan Kopi Juanda menjadi lebih baik, terus belajar dan tetap berprogres. Konsep yang kami bangun bersama Kopi Juanda ini adalah kedekatan dengan tamunya, karena kami percaya konsep coffee shop merupakanlah modernisasi dari konsep warkop yang banyak kita jumpai sejak lama. Coffee shop merupakan tempat bertukar cerita, ide serta gagasan antar setiap individu yang ada di dalamnya, membentuk suatu ekosistem yang bisa memberikan manfaat satu sama lain.

Bagi teman teman yang kebetulan berdomisili di wilayah Bandung, atau pun berencana berkunjung ke Bandung, dengan senang hati pintu kedai kami selalu terbuka lebar untuk kita bisa bertukar cerita sambil ditemani secangkir kopi buatan kami.





Friday, December 14, 2018

Desember 2018. Film Ilford FP4 ini memang cukup sulit ditemui, sangat jarang seller dunia analog Indonesia yang menyediakan film ini. Saya sendiri kebetulan memperoleh film ini dari Saparua Film Lab Bandung, bagi yang ingin mencobanya juga bisa menghubungi mereka karena disana cukup banyak pilihan film yang jarang ditemui di seller lainnya. Harga film Ilford FP4 ini memang cukup mahal, sedikit lebih tinggi dari film bnw kebanyakan (pada umumnya). Di Saparua Film Lab saya mendapatinya dengan bandrol harga 140 ribu Rupiah per pcsnya.

Film ini tergolong film medium speed karena nilai ASAnya yang tidak begitu besar yakni 125 saja, mengutip dari beberapa review yang tersebar di internet kemampuan film ini untuk di push ataupun di pull sangatlah baik hingga tetap mampu menghasilkan kualitas grain harus dan tingkat ketajaman gambar yang baik. Pada percobaan pertama ini saya berniat untuk memotret menggunakan speed sesuai keterangan di box yakni 125, namun dikarenakan di settingan kamera tidak terdapat speed sebesar itu maka rasio yang paling dekat saya gunakan adalah di ASA 100.

Film ini bisa dibilang favoritnya para fotografer dan penikmat foto hitam putih, saya mulai teracuni untuk mencoba film ini karena para penggiat analog yang aktif di forum kaskus sering mengupload hasil karyanya memotret menggunakan Ilford FP4 ini dan hasilnya sangatlah menarik, warna hitam putih yang natural dengan tone yang memberikan kesan lawas yang sangat baik. Rasanya hampir semua para pecinta foto monokrom akan suka dengan hasil yang dihasilkan oleh film ini.

Untuk mencoba film ini saya memilih lokasi di sekitaran Pasir Kaliki dekat Stasiun Hall dan Alun-alun Bandung karena menurut saya di sana banyak objek menarik untuk ditangkap dalam warna hitam dan putih. Untuk develop dan scan sendiri awalnya saya memilih untuk melakukannya di Saparua Film Lab (tempat dimana saya memperoleh filmnya) namun saat tiba disana ternyata mereka menolaknya dengan alasan mereka belum mampu mendevelop filmnya karena memiliki ASA yang tidak biasa (125) sebenarnya bisa mereka paksakan dengan push atau pull tapi mereka tidak berani dikarenakan takut hasilnya tidak begitu baik. Akhirnya saya kembali ke tempat develop dan scan langganan yakni Seni Abadi, dan langsung saja hasilnya dapat kalian lihat di bawah ini (foto menggunakan kamera Canon 7 + lensa Industar 61 52mm f2.8).

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Bandung, 2018

Dzaka, Desember 2018

FP4 is the “comfy slipper” of the film world. beautiful tones, easy to handle, consistent and reliable, a safe haven. - Ady Kerry 

Monday, December 10, 2018

Postingan ini merupakan postingan lanjutan dari kunjungan saya di Bali pada Oktober 2018 lalu. Pada kesempatan kunjungan kemarin saya membawa tiga buah roll film, 1 roll Ilford Delta 100 (hasilnya bisa dilihat pada postingan sebelumnya disini), 1 roll Fomapan 100 (dalam postingan ini), dan 1 roll expired Konica VX 100 yang setelah di develop ternyata hasilnya kosong semua dikarenakan kondisi film yang sudah sangat tidak baik.

Pada kunjungan kali ini saya memilih untuk menyewa mobil agar lebih mudah mobilisasi waktu dan tempat. Tempat yang kami tuju adalah Pura Besakih, pura yang lokasinya sedikit menuju bagian tengan - utara Pulau Bali ini saya tempuh dengan perjalanan kurang lebih 2 jam dari Gianyar. Tiba disana, di sekitar parkiran kendaraan saya disambut dengan banyak penjual asongan yang menawarkan jualannya berupa kain sarung karena untuk memasuki wilayah pura kita diwajibkan menggunakan kain sarung ini, sebenarnya tanpa perlu membeli kain sarung sendiri kita nanti akan mendapat kain sarung sewaan yang merupakan bagian dari tiket masuk sebesar Rp. 15.000 disamping itu tiket masuk tersebut termasuk juga transportasi ojek dari parkiran menuju ke wilayah pura (untuk satu kali jalan). Oke langsung saja berikut bebereapa gambar yang saya ambil.

Bali, 2018

Bali, 2018

Bali, 2018

Bali, 2018

Bali, 2018

Bali, 2018

Bali, 2018

Bonus foto GWK

Bali, 2018

Bali, 2018

Dzaka, Oktober 2018

“We all shine on...like the moon and the stars and the sun...we all shine on...come on and on and on...” - John Lennon

Friday, November 23, 2018

14 Oktober 2018. Saya berkesempatan mengunjungi Bali kala itu. Film hitam putih menjadi pilihan saya, saya membawa 2 roll film hitam putih masing-masing adalah Ilford Delta 100 dan Fomapan 200. Untuk Ilford Delta 100 sendiri sebenarnya saya sudah tidak begitu penasaran dengan tone yang dihasilkan, namun pada kesempatan ini saya akan memasangkannya pada Canon 7 + Industar 61 saya berbeda dengan sebelumnya menggunakan Konica AT3 beserta Hexanonnya. Pada postingan kali ini saya akan membagikan hasil foto menggunakan film Ilford Delta 100, hasil dari Fomapan 200 akan saya bagikan kemudian di postingan berikutnya.

Sempat bingung dan ragu untuk memakai film ini dimana, namun saat berkesempatan mengunjungi Tanah Lot saya pikir ini merupakan lokasi yang menarik untuk saya mengambil beberapa gambar street photography maupun landscape dengan menggunakan film hitam putih. Cukup penasaran juga bagaimana agar bisa membuat hasil foto landscape tetap menarik walau hanya berupa hitam putih. Langsung saja saya menghabiskan hampir seluruh frame dari Ilford Delta 100 tersebut di Tanah Lot. Cukup banyak momen menarik yang bisa saya tangkap, dari mulai aktivitas wisatawan sampai pemandangan landscapenya, menarik. Tanpa perlu dijelaskan lebih jauh langsung saja berikut merupakan beberepa foto pilihan dari hasil tangkapan saya disana.


Tanah Lot, 2018

Tanah Lot, 2018

Tanah Lot, 2018

Tanah Lot, 2018

Tanah Lot, 2018

Tanah Lot, 2018

Hasilnya cukup terkejut saat membandingkan ini dengan hasil dari film serupa yang pernah saya gunakan dengan menggunakan kamera Konica AT3. Hasil saat ini menurut saya memiliki nuansa yang lebih high contrast hal ini mungkin pengaruh dari lensa yang digunakan, mungkin pula dikarenakan perbedaan coating setiap lensa tersebut. Jika dibandingkan dan diharuskan memilih saya lebih menyukai tone dari Ilford Delta 100 yang saya gunakan dengan menggunakan kamera Konica AT3, karena hasilnya lebih low contrast dan saya menyukai itu. Tapi memang keduanya memiliki nilai khas sendiri, inilah serunya memotret dengan film, setiap kamera, lensa dan film yang digunakan akan memberikan kejutan masing-masing untuk hasil foto kita.


Dzaka, Oktober 2018

"I think life is too short not to be doing something which you really believe in." - Steve McCurry


Wednesday, August 1, 2018

Maeklong, 2018
Foto di atas diambil menggunakan kamera handphone di Pasar Rel Kereta Maeklong, tidak begitu berani untuk menangkapnya dengan kamera analog terlalu takut kehilangan momen yang terjadi  dalam waktu yang cukup cepat.

Ayutthaya

25 Juli 2018. Hari itu saya berencana untuk melakukan one day trip dari Bangkok ke Ayutthaya yang merupakan kota bersejarah bagi Kerjaan Siam yang kini dikenal dengan Kingdoms of Thailand sebelum akhirnya kota ini mengalami kehancuran pada tahun 1767 dikarenakan mendapat serangan dari Burma, kini puing-puing sisa kehancuran kota tersebut masih bisa kita kunjungi dan menjadi taman bersejarah warisan dunia UNESCO.

Berangkat dari Bangkok menuju Ayutthaya menggunakan kereta ekonomi kelas 3 dengan biaya yang sangat murah, 15 Bath saja. Hari itu saya memakai film Ilford Delta 100, film yang banyak direkomendasikan orang sebagai salah satu film black and white terbaik. Seri Delta dari Ilford memang wajib dicoba, untuk Delta 100 kita masih bisa dengan mudah menemuinya namun untuk Delta 400 di Indonesia cukup sulit ditemui.

Di Ayutthaya sendiri saya memilih untuk menyewa sepeda motor agar lebih mudah mengelilingi kompleks kota bersejarah ini dan dapat mengefisienkan waktu karena di sore harinya saya harus segera kembali ke Bangkok. Total ada 6 tourist attraction yang kesemuanya merupakan bangunan candi bersejarah peninggalan kerajaan Siam. Saya hanya sempat berkunjung ke 4 candi yakni Wat Maha That, Wat Ratchaburana, Wat Phra Si Sanphet dan Wat Phra Ram. Cuaca mendung masih menyelimuti saya saat itu tapi diselingi dengan terik matahari yang cukup menyengat. Langsung saya berikut objek-objek yang saya tangkap menggunakan kamera analog saya dengan film Ilford Delta 100.

Ayutthaya, 2018

Ayutthaya, 2018 

Ayutthaya, 2018

Ayutthaya, 2018

Ayutthaya, 2018

Ayutthaya, 2018

Ayutthaya, 2018

Maeklong

26 Juli 2016. Masih menggunakan film yang sama Ilford Delta 100 karena memang belum habis, hari itu saya berniat menghabiskan film tersebut dengan mengunjungi Maeklong Railway Market yang terletak di kota Samut Songkhram. Dari Bangkok saya memilih menggunakan van dengan biaya 100 Bath saja. Van yang saya tumpangi ini sebenarnya memiliki tujuan akhir menuju kota Ratchanaburi, namun kita bisa meminta untuk diturunkan di sekitar daerah pasar Maeklong dekat dengan stasiun Maeklong. Sambil menunggu, 2 eksposure saya ambil di terminal van tersebut.

Bangkok, 2018

Bangkok, 2018
Banyak hal menarik disini, aktivitas keseharian warga Samut Songkhram yang berbelanja di pasar yang berlokasi di atas rel kereta sangatlah unik. Setiap kereta lewat maka para pedagang ini akan segera membereskan barang dagangannya untuk memberikan ruang bagi kereta, para pembeli dan wisatawan akan menepi pula. Bagi para wisatawan yang tertarik untuk melihat momen tersebut maka perlu diperhatikan jam saat kereta akan melewati pasar tersebut, untuk mengetahuinya kita bisa melihat pada timetable kereta yang terpampang di stasiun Maeklong yang lokasinya bersebelahan dengan pasar Maeklong ini. Berikut beberapa momen yang saya peroleh disana.

Samut Songkhram, 2018

Samut Songkhram, 2018

Samut Songkhram, 2018

Samut Songkhram, 2018

Samut Songkhram, 2018

Samut Songkhram, 2018
Seperti biasa proses develop dan scan saya percayakan pada Seni Abadi, sekedar info untuk pemrosesan film black and white mereka memerlukan waktu kurang lebih 3 hari kalender, sedangkan untuk proses film warna diperlukan waktu cukup satu jam saja.

Mereview sekilas terkait performa film Ilford Delta 100 ini, secara keseluruhan memang film ini memiliki karakter medium kontras yang pasti semua orang akan suka. Grain dari film ini memang tidak begitu halus. Masih terlihat sedikit grain (mungkin ini tergantung merk cairan kimia yang digunakan dalam proses develop) namun itu tidak begitu mengganggu, karena beberapa orang bahkan lebih suka karakter film hitam putih yang memiliki grain seperti ini sehingga lebih menampilkan kesan lawas. Dari hasil yang didapat ini saya menjadi semakin penasaran untuk mencoba performa dari saudara sepupunya yakni Ilford Delta 400.

Dzaka, Juli 2018

“When you photograph people in color, you photograph their clothes. But when you photograph people in black and white, you photograph their souls!” - Ted Grant

Sunday, July 29, 2018

Bangkok, 2018
Selasa, 24 Juli 2018. Kala itu kebetulan saya sedang berkunjung ke Bangkok, Thailand. Bersama kamera Konica AT3 seperti biasa, kali ini saya ditemani roll film Fuji Industrial 100 yang saya dapatkan dari Seni Abadi. Cukup jarang Seni Abadi menjual varian film ini.

Kondisi cuaca yang cukup mendung saat itu membuat saya sempat kurang yakin dengan performa film low speed Fuji Industrial asa 100 ini. Hampir keseluruhan gambar saya ambil dengan memberikan kompensasi +1 stop.

Tujuan hari itu adalah mengunjungi Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun. Sebelum melalui penyebrangan ferry Sathorn Pier saya memutuskan untuk mengambil satu gambar dalam rangka test exposure di sekitar hotel tempat saya menginap.

Bangkok, 2018

Saya menggunakan perahu dari Sathorn Pier dengan tujuan Grand Palace dan kemudian menuju Wat Pho dan selanjutnya menyebrangi sungai Chao Phraya kembali untuk menuju Wat Arun yang berlokasi tidak jauh.

Destinasi pertama Grand Palace, cukup antri sepanjang jalan menuju lokasi ini. Cukup sulit juga bagi saya untuk memperoleh gambar yang clean dan enak dipandang ditengah keramaian. Masuk ke Grand Palace dengan biaya yang cukup mahal (500 Baht) tapi karena ini destinasi wajib di Bangkok jadi saya rela memutuskan untuk masuk dan ambil cukup banyak gambar disini sambil berharap perhitungan kompensasi saya tepat sehingga hasil gambar masih enak dipandang. Berikut beberapa objek dan momen yang saya peroleh.

Bangkok, 2018

Bangkok, 2018

Bangkok, 2018

Bangkok, 2018

Bangkok, 2018

Bangkok, 2018

Selesai dari Grand Palace saya berlanjut ke destinasi berikutnya yaitu Wat Pho. Cukup berjalan kurang lebih 1,5 km kita bisa tiba di Wat Pho. Untuk memasuki Wat Pho ini kita dikenakan biaya sebesar 100 Bath, saya cukup kaget dengan harga tiket tersebut, sehingga saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam karena alokasi dana masih diperlukan untuk keperluan lain. Yang menarik dari Wat Pho ini adalah kita bisa melihat patung Reclining Buddha, karena saya tidak masuk jadi saya hanya bisa melihatnya dari luar jendela saja.

Oke, lanjut dari Wat Pho saya menyebrang sungai Chao Phraya lagi untuk menuju Wat Arun, biaya penyebrangannya cukup 4 Bath saja. Masuk ke Wat Arun kita dikenakan biaya 50 Bath alhamdulillah lebih murah dari Wat Pho, kali ini saya bersedia mengeluarkannya karena cukup penasaran dengan arsitektur tempat ini. Wat Arun didominasi warna putih, sehingga untuk mendapatkan gambar yang menarik saya harus mencari objek yang cukup kontras. Berikut beberapa gambar yang saya dapatkan dari Wat Arun.

Bangkok, 2018

Bangkok, 2018

Bangkok, 2018


Bangkok, 2018

Bangkok, 2018

Itulah 11 frame yang saya dapatkan selama mengunjungi Grand Palace dan Wat Arun menggunakan film Fuji Industrial 100. Ini kali pertama saya memakai film low speed asa 100. Cukup puas dengan karakter film Fuji Industrial ini, dan film ini akan lebih menarik bila kita melakukan kompensasi menjadi sedikit over exposure ditambah dengan komposisi gambar yang pas bernuansa tumbuhan hijau dan ornemen objek berwarna merah kita akan mendapat tone, kontras dan saturasi yang menarik

Dzaka, Juli 2018

“The best thing about a picture is that it never changes, even when the people in it do.” - Andy Warhol

 
Twitter Facebook Dribbble Tumblr Last FM Flickr Behance